
“ Uri,.. bangun udah malam neh, masa anak gadis tidurnya disofa dan sampai malam lagi,” tegur lembut Shita kakak tertua Yuri, “ ya kak, sekarang udah jam berapa, aduh Uri ketidurannya disofa, habis Uri cape banget kak, “ Jawab uri, “ nah kalau begitu cepat sana mandi, mbo mi dah kakak minta agar disiapkan air panas untuk kamu mandi biar badanmu segar, oke ,.. “ kata shita, sambil mengacungkan jempolnya seperti iklan salah satu stasiun televisi swasta, “ Ok,.. kakakku tercinta,.. siap dilaksanakan,” tegas Yuri sambil memeluk kakak tersayangnya, lalu pergi ke kamarnya lalu bersiap untuk mandi, “jangan lupa habis mandi, trus makan, tuh udah kakak siapin makanan kesukaan kami, sambal hati campur jengkol sumedang “ teriak shita, “ Siiiiiiiip, mantap Uri laper banget kak” balas Yuri.
Sejak lulus SMA di desanya, dan masuk perguruan tinggi Yuri tinggal bersama kakak tertuanya yang dalam rumah tersebut dihuni oleh 6 orang yaitu Shita dan mas Johan suami Shita serta dua orang anak yang masih belia Sigit usia 5 tahun dan Neni usia 3 tahun beserta seorang pembantu yang bernama mbo mi,
Yuri sendiri anak terakhir dan 3 saudara, 2 kakaknya yang pertama Yoga Rofli Kuncoro Jati Waringin, biasa dipanggil mas Rofli, seorang kepala desa didesanya dan tinggal sederhana bersama istri serta 3 orang anaknya, nah dengan mas rofli inilah Ibu mereka tinggal, sejak ayah mereka meninggalkan mereka untuk selamanya saat Yuri masih duduk di bangku kelas 6 SD, kakak Yuri yang kedua adalah Praditha Putri Shita Aulia Cahaya Pramarta biasa disapa shita, tinggal dikota bersama suaminya yang bekerja sebagai salah satu manager anak perusahaan terkemuka dikota ini, Yuri sendiri memiliki nama yang lumayan panjang sehingga jika nantinya ada seorang pria mendekatinya dan ingin mempersuntingnya maka memang harus benar-benar lelaki pilihan yang siap mental dan panjang napas karena nama Yuri itu adalah Putri Paramihta Yuri Pramesti Agung Cahyaning Tyas Agra Mulia. (busyet nama, apa jalan tol)
“ eeuu….!! Tanpa sadar Yuri bersendawan ketika beberapa saat suapan terakhir amblas masuk ke perutnya yang super lapar, yang semangkok sambal goreng Hati Jengkol Sumedang, telah habis dimusnahkannya,… bersamaan dengan 2 piring nasi putih punel dari beras cianjur yang terkenal cap kepala banteng. Bergegas Yuri membereskan semua yang ada dimeja makan, lalu dibawa kedapur dan dicucinya, setelah selesai dia langsung kekamar dan membaca kembali SMS terakhir yang dikirimkan oleh Roni, ‘hmmm kenapa SMS ini membuat aku menjadi aneh ya, apalagi mimpiku tadi sangat menyenangkan,… akh andai saja ini menjadi nyata,… , gumam Yuri.
“Pagi Cantik, pha kabarmu hari ini, semoga tetap cantik hatinya melebihi orangnya,..’ demikian bunyi SMS pagi ini yang dikirimkan Roni, yah kembali hati Yuri berbunga lagi ketika sepagi ini, bahkan ayam jantannya herman tetangga sebelah pun belum berkokok sombong, sms Roni dah hinggap di HP Yuri, membangunkan dia dari tidurnya yang pulas, sampai dia tidak sadar bahwa bantal tidurnya telah terbentuk maha karya yang sangat tidak dia sukai, ya sebuah peta terbentuk pada bantal spongebob kesukaannya,... cairan itu mengalir lembut lewat celah bibirnya.
“Ampun,… mati aku,.” Teriak yuri, “ada apa ri”, Tanya lia teman satu kantor Yuri, “Aku lupa bahwa berkas Roni ternyata belum sempurna, karena photonya harus diperbaharui, dalam urusan ini dia tidak boleh photo santai seperti artis, walaupun terlihat ganteng, tetapi dia harus pakai photo formal” jelas Yuri, “ Ya udah , kamu telp aja Roninya dan minta dia siapkan Photo dia, sekalian ukuran poster untuk dipajang di kamar mandi agar tikus dikamarmu pada takut “ urai Lia, “ya,.. kamu aja yang telp aku malu,,…. “ Pinta Yuri, “eh, enak aja, kan itu kerjaan kamu,.. masa aku yang repot sih, ga mau ah,. Telpon aja ndiri” jawab lia.
‘telp, ga, telp, ga, telp, ga” gumam Yuri sambil mondar-mandir kaya mandor yang ga jelas juntrungannya, akhirnya diaangkat telp kantor dan mencoba telp Roni, selang beberapa waktu terdengar bunyi nada sibuk, dari ponselnya Roni, “ ya, telpon ya lagi sibuk, gimana nich,…!” Tanya Yuri , “ Coba lagi aja, tapi tunggu setengah jam lagi baru kamu hubungi, coba deh,. “ terang Lia, “Ok deh,.. thanks ya” ujar Yuri.
Tidak lama beselang, Roni yang selesai rapat diperusahaannya mencoba melihat Ponselnya, dan ternyata ada panggilan tak terjawab, dan dia tahu bahwa itu dari kantornya Yuri, “ada apa ya,” gumam Roni, “ehmm jangan-jangan si cantik yang telp, ah ga mungkin, kan dia pemalu, lagian yang ngebet ama dia kan aku, ya udah kutelp aja, aku kan lama ga dengar suaranya” ucap Roni, segera dia menghubungi nomor kantor Yuri, dan ternyata ada tersambungkan “ Selamat Pagi, Lembaga Pengembangan Profersi Dhierzha dengan Lia disini, ada yang bisa kami Bantu,..!!!” sambut suara disana yang ternyata telpon tersebut diterima oleh Lia rekan kerja Yuri, “eh,.. anu,.. oh ya, maaf tadi nomor ini ada menghubungi saya, saya ini Roni salah satu peserta Lembaga ini yang akan ikut pelatihan…” urai Roni, “ oh,.. gitu, eh ya maaf mas tadi yang menghubungi mas adalah Yuri teman saya, katanya ada sesuatu yang kurang tentang persyaratan mas, bentar ya saya panggilkan dulu,. Jangan ditutup ya,..” lalu lia meletakkan gagang telepon dan mencari Yuri, “ Ri,.. ada telpon untuk kamu, segera ya diangkat karena dah lama menunggu, kasihan lho,.” Ujar Lia, “ Dari siapa ya,.. kamu ga Tanya namanya,.. “ Tanya Yuri, “dari ,….. dari,… dari,… tadi, hehehehe, ada dech” canda lia,
Bergegas Yuri mengangkat telepon dan “Halo,.. siapa ini,..” sapa Yuri, mendengar suara Yuri ditelpon, dada Roni berdebar seakan sedang menunggu undian Rumah seharga 1 M, lalu dia mencoba menenangkan diri dan langsung menyapa “ Halo juga cantik, gimana kabarmu pagi ini, semoga kamu masih cantik, seperti anganku selama ini, aku Roni yang tadi kamu telepon, ada ap ya,.. semoga bukan berita duka ” Deg cessss, sekarang jantung Yuri yang hampir copot, dia tidak menduga bahwa yang menelpon itu adalah Roni, orang yang beberapa hari ini mencuri perhatiannya, dan menurut dia orang yang sedang peduli dengan deritanya, “eh,. Anu,.. maaf mas, sorry, berkali-kali sory, bahwa hari ini hari rabu dan mas kerjakan, jadi saya juga kerja, sehingga kita sama-sama kerja gitu, “ jawab Yuri ngaco “aduh,.. ko aku ngomongnya ngawur sih,” umpat Yuri dalam hati, mendengar jawaban Yuri seperti itu kembali Roni yang bingung, apa maksudnya lalu dia balas “Cantik, coba tenang dulu, tarik napas panjang dan hembuskan pelan-pelan, lalu bicara “ pinta Roni, ternyata Yuri mengikutinya dan berhasil “begini mas, maaf dulu yang tadi, bahwa berkas mas kemaren itu masih ada yang kurang, yaitu photo mas perlu diganti dengan tampilan formal, bukan foto santai seperti ini” jelas Yuri, “ oh,.. masalah photo ya,.. oke deh ntar siang kuantar, dan sekalian kamu kuundang makan siang, oke jangan ditolak, dadah by,by” jawab Roni dan langsung memutuskan sambungan “ dad, dah juga,” balas Yuri, terbata tanpa sempat melakukan penolakan atau bersedia.
Sejak telepon dari Roni tadi, Yuri menjadi gelisah, bingung dan bingung lagi, aduh gimana ini pikirnya. “Teng, teng, teng” jam dinding dikantor Yuri berdetak duabelas kali menandakan hari telah siang, dan makin terasa kecemasan pada dirinya, “siapkah aku makan siang dengannya”, tegur hatinya.
Selang beberapa waktu sebuah mobil Yaris berwarna merah memasuki halaman kantor Yuri, tampak keluar dari mobil tersebut seorang eksekutif muda bernama Roni, ia menapaki teras kantor dan langsung menuju ruang administrasi, tampak beberapa peserta diklat yang sedang belajar terlihatnya dari kaca besar sekat ruangan, dan terlihat juga Manggolo yang biasa disapa Amang sedang memberikan materi pelatihan pengembangan SDM, dan akhirnya Roni tiba juga ke meja Yuri, “hai pha kabar cantik, boleh duduk atau aku hanya berdiri menjadi seorang guard,.. “ sapa Roni, “oooh my god, kenapa akhirnya dia datang juga” gumam Yuri, “mari mas silakan duduk,. maaf seadanya dan meja saya berantakan, maklum banyak berkas”, sapa Yuri dengan senyum termanis yang pernah dia berikan kepada seseorang, bahkan untuk kakaknya sendiri tidak pernah dia berikan,
“Ok, thanks, oh,.. ya ini foto saya yang formal, dan foto yang kemaren terserah mau disimpan atau di musnakan karena dianggap barang bukti juga gapapa,” jelas Roni, “oh, ga kok mas, foto yang kemaren ada kok, sebentar ya,..” pinta Yuri sambil bergegas mengambil foto Roni terbaru dan menyimpannya ke locker arsip, dan mencari foto Roni terdahulu, lalu dia serahkan kembali kepada Roni, “ini mas fotonya,…” kata Yuri.
“oh, ga jadi dipinta, ntar kalo aku jadi artis susah lho nyari fotonya, ambil aja mumpung gratis,.. atau kita foto berdua lagi”, canda Roni, “ ah ga mas, makasih aja, lain kali aja tunggu mas jadi Presiden, dan gambar mas akan dipajang dikantor ini, “balas Yuri.
“gimana tawaran makan siangnya, dosa lho kalo ga bersedia, karena penawarannya ga dapat diulang, dan besok udah ga berlaku lagi alias kadaluarsa,…” canda Roni, “ aduh mas bukan ga mau, tapi makasih deh,.. aku dah kenyang barusan makan tadi ama lia di kantin depan” ucap Yuri yang secara harus menolak ajakan Roni, padahal seluruh isi perutnya dan cacing-cacing yang berserikat didalam perut, belum lagi ancaman asam lambungnya mengatakan “ Yuri bohong,…” karena dari tadi pagi, tuh lambung Cuma diisi sereal ama air teh doing, ga ada asupan yang lain, makanya cacing dan sebangsanya pada demo dalam perut Yuri, mukulin segala apa aja yang bisa dipukul agar suaranya terdengar dari luar sana,
“kriiiiuuuuughhht,…, akhirnya usaha cacing diperut Yuri membuahkan hasil, tidak kencang, juga tidak lembut suara itu terdengar namun mengalun dengan syahdunya seperti lagu Afgan terbaru “jangan kau dustai perutmu” (emang ada lagu Afgan yang judulnya seperti itu), Yuri pun tersipu dan berusaha untuk menutupi rasa malunya, tetapi tidak bisa, kepalang basar Roni dan denger dan ini menjadi senjata ampuh untuk memaksa Yuri memenuhi ajakannya, “ udah deg, ga usah pake pura-pura, atau malu-malu apalagi supan-supan,,… kalo lapar ya lapar aja, ga perlu bo’ong ntar yang diperut protes lagi lho,” canda Roni, Yuri diam aja ga bisa, ga tahu dang a ngerti harus bilang apa, yang pasti dia marah besar ama cacing-cacingnya didalam, kok ga pengertian banget sih ni cacing pikirnya, masih untuk dibolehin nginap di perut, coba kalo diusir mau ngungsi kemana,… “ gumam Yuri dalam hati,
“eeeet,.. tunggu dulu jangan main tarik dong, emang barang apa,.. sayakan manusia, tapi lapar juga sekarang”, celutuk Yuri kaget ketika tangannya di tarik oleh Roni untuk memaksanya mengikuti ajakan Roni untuk makan siang, “ udahlah ayo, ntar tambah lapar neh,.. pokoknya dijamin deh,.. segala bentuk kehormatan dan aku dah jinak kok, kan baru seminggu disuntik rabies’,.. canda Roni.
“Gimana enak ngga masakannya, disini,.. di kafe ini, aku sering nongkrong kalo pas jam siang, ama mau pulang kantor,.. suasananya santai dan masakannya enak,.. boo,” urai Roni menjelaskan tentang kafe dimana mereka akhirnya makan siang berdua,.. “lumayan, tapi apa ga rugi ngajakin aku makan disini, makanku banyak lho, kan aku punya peliharaan yang harus dinafkahi,..” balas Yuri,.. “oh,.. ga papa,.. nyantai aja lagi, buat gadis secantik kamu,. Apapun akan kulakukan asal jangan disuruh ngerjain matematika sama pegang setrum listrik,.. “ , “ Pokoknya cantik harus kenyang dan merasa enjoy disini, sehingga ntar kalo pulang kerja cantik punya kenangan yang indah,… “ jelas Roni.
Tidak terasa suasana keakraban terjalin erat. Seakan-akan mereka berdua sudah begitu kenal sejak lama, dan Roni pun ternyata seorang yang piawai memanjakan wanita dan merebut perhatian wanita, Yuri saat itu benar-benar seperti seorang putri yang sedang dilayani pangeran (apa Yuri ingat ya dengan mimpinya kemaren,..), seringkali Roni melontarkan Joke-joke lucu untuk menghangatkan suasana dan sesekali juga mata Yuri bertatapan dengan mata Roni, sehingga menimbulkan debaran yang lain dihati kedua insan tersebut, diakhir makan Roni pun berdiri ke panggung mini dimana disana ada seorang Keyboardist dan Roni berbincang sejenak dengan sang keyboard, mengambil mike lalu berkata “Selamat siang pengunjung kafe ‘Hijau Daun” , terima kasih atas kunjungannya dan ijinkan saya menghibur anda dengan melantunkan sebuah lagu, dan lagu ini special buat some one yang sedang duduk manis di meja 32, dia yang cantik, dia yang anggun dan dia yang berjilbab disana, “ terima kasih,…
,.. baru sebentar saja,… kau bergegas meninggalkanku,.. rasa rindu padamu ,….
,…kini besarang dibenakku,…
,.. cinta itu anugerah yang tak mungkin untukku melepaskannya
,... walau seribu rintangan tak gentarku untuk menjalani semua denganmu,..
Yaah lagu SKJ nya ST 12 mengalun merdu dari suara Roni, sambil terus tersenyum kepada Yuri, yang merasa menjadi satu-satunya orang yang dipersembahkan lagu, dia merasa terbang dan terbuai, “Roni kamu memang sangat mengerti aku,.. ah andai saja,..” khayalan Yuri melambung jauh. Dengan seksama Yiru mengamati Roni melantunkan lagu tesebut, sesekali mulutnya komat kamit mengikuti alunan lagu yang dilantunkan Roni, walau sekilas seperti orang yang baca mantra.
“terima kasih,… semoga suara saya tidak menghapus selera makan pengunjung sekalian maklum biasa nyanyi di kamar mandi,..” lalu Roni melangkah menuju meja 32 kembali, Yuri pun berdiri menyambutnya , lalu duduk kembali,.. “suara kamu bagus,.. bisa ngga ku beli rekaman kaset, atau CD nya,..” canda Yuri, “oh ga bisa, itu ekslusif buat dinyanyikan aja ga ada rekamannya, jadi kalo pengen beli aja orangnya sekalian” balas Roni. “ntar piker-pikir dulu,.., “ayo kita pulang ntar kamu dicari bosmu lagi” lalu Roni berdiri diiringi oleh Yuri, dan mereka pun melangkah bersama menuju parkiran mobil untuk pulang kekantor Yuri.
“udah mas, cukup didepan aja,.. Makasih ya,.. atas jamuan makannya”, ujar Yuri saat turun dari mobil, “ Ok, jangan jera ya, makasih juga atas kesediaannya,..maaf ngantarnya Cuma sampai depan”, pungkas Roni, lalu menjalankan mobilnya menuju tempat kerja, dalam perjalanan Roni sempat berpikir “akh Yuri kamu begitu menyita perhatianku, gayamu, penampilanmu, sikapmu dan semau yang ada didirimu sangat ku suka, tapi kenapa kita baru bertemu sekarang,.. ah andai saja,..” Roni pun menghentikan lamunanya karena tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara SMS dari Phonselnya yang berisi pesan “Sayang kamu ada dimana, udah makan ya,.. oh ya saying, aku bentar lagi selesai dari pelatihan kira-kira tiga hari lagi,. Jemput aku ya nanti, dadah sayang”, ya SMS tersebut dikirimkan oleh Yolanda, kekasih Roni yang sedang mengikuti pelatihan Manajerial Koperasi, Yolanda merupakan kekasih Roni, bekerja pada sebuah Koperasi terbesar di Kota ini, dan menjadi seorang manajer perkreditan usaha kecil, tetapi Yolanda selalu disibukkan oleh tumpukan-tumpukan kerja, sehingga waktunya untuk Roni menjadi berkurang,. Apalagi sekarang Yolanda sudah seminggu pergi ke Batam untuk mengikuti pelatihan. Dengan malas Roni membalas SMS tersebut, lalu berhenti disebuah toko untuk membeli permen cengkeh kesukaannya, dan saat ingin membayar dikasir dia terpesona melihat sebuah bros berbentuk Rose dengan tiga helai daun, cantik sekali pikirnya, dan sangat pas kalo bros ini dikaitkan kepada seseorang yang mengenakan jilbab, akhirnya bros itupun diambilnya lalu dibayarnya, dia tidak tahu untuk siapa bros itu akan diberikan, Roni hanya terpesona terhadap bros tersebut dan ingin melihat bros tersebut terpasang di sebuah jilbab.
‘Assalamualaikum,.. “ sapa Yuri ketika dia tiba dirumah sepulang dari kantor, dan kali ini bukan kelelahan yang tampak pada dirinya namun dan segaris kebahagiaan dalam dirinya, sehingga diapun bergegas kekamarnya, lalu membereskan dan menata meja kecilnya, yang diakhiri perginya Yuri ke kamar mandi untuk mandi, dia tidak ingin seperti kejadian kemaren yaitu ketiduran, dan akhirnya mandi malam,.. tubikuntinyulah
0 komentar:
Posting Komentar